Desain Penelitian
Pengertian Desain Penelitian
Sekaran mengungkapkan pengertian desain penelitian sebagai suatu rencana penelaahan atau penelitian secara ilmiah dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian atau identifikasi masalah. Sebagaimana halnya sebuah rencana atau rancangan, maka desain penelitian yang dibuat oleh seorang peneliti dapat merupakan pilihan-pilihan yang menentukan kegiatan penelitian tersebut. Misalkan, peneliti dalam merencanakan sebuah penelitian dapat saja mempunyai rancangan dengan komposisi sebagai berikut: jenis penelitiannya survey, metode pengambilan datanya wawancara, alat analisisnya chi-square. Atau mempunyai rancangan dengan komposisi sebagai berikut: jenis penelitiannhya eksperimental, metode pengambilan datanya menggunakan kuesioner, alat analisisnya adalah uji t.
Beberapa hal yang biasanya dikemukanan dalam desain penelitian, dan satu dengan lainnya merupakan komposisi yang berkaitan diantaranya adalah: tujuan penelitian, unit analisis, fokus analisis, metode pengumpulan data, dimensi waktu dan kausalitas atau non kausalitas dan lain sebagainya.
Desain Penelitian Berdasarkan Tujuan
Hal yang pertama yang harus ditetapkan oleh peneliti dalam merencanakan penelitiannya adalah mentukan terlebih dahulu tujuan penelitiannya. Secara umum, tujuan atau jenis penelitian dapat berupa exploratory, descriptive, explanatory. Sehingga hal pertama yang harus ditetpakan oleh si peneliti adalah apakah dia akan melakukan penelitian exploratory,descriptive atau explanatory.
Beberapa hal yang dapat dikemukakan sebagai ciri-ciri khusus ditetapkannya tujuan penelitian eksplanatory, eksploratory, dan diskriptive adalah sebagai berikut:
1. Eksplanatory dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:
a. Bertujuan menghubungkan atau menjelaskan antara dua variabel, misalkan penelitian yang bertema “hubungan antara motivasi dengan loyalitas karyawan”.
b. Bertujuan membuktikan hipotesis atau menguji sebuah teori, misalkan menguji teori motivasi Herzberg melalui tema penelitian “pengaruh gaji dan suasana kerja terhadap motivasi”
2. Eksploratory dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:
a. Tidak banyak informasi atau penelitian yang sama mengenai situasi yang hendak ditelaah. Misalnya “pengaruh wanita karir terhadap anak-anak nakal”
b. Memerlukan in-depth interview atau variabel yang diteliti belum dikenal luas. Karena umumnya penelitian eksploratory adalah penelitian yang bertujuan mengembangkan teori dan belum ada teori sebelumnya. Maka penelitian ini biasanya tidak ada pedoman dalam menelaah variabel yang diteliti, sehingga memrlukan in-depth interview.
c. Cenderung tidak terstruktur, karena tujuannya adalah memunculkan hipotesis untuk penelitian lebih lanjut.
d. Relatif lebih ketat dibandingkan deskriptif dan eksplanatory.
3. Deskriptif dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:
a. Ketika peneliti hanya ingin menggambarkan satu fenomena saja.
b. Ketika peneliti tidak menguji teori atau hipotesis.
c. Cenderung tidak terstruktur karena tujuannya adalah hanya menggambarkan suatu fenomena saja.
Desain Penelitian Berdasarkan Dimensi Waktu :
Peneliti seringkali harus berhadapan dengan pilihan penelitian yang menyangkut dimensi waktu. Misalkan ketika peneliti tersebut melakukan penelitian eksperimental. Dalam penelitian eksperimental, peneliti umumnya melakukan pengukuran terhadap objek yang sama lebih dari satu kali, oleh karenanya peneliti tersebut harus memperhatiakan dimensi waktu yang terlibat dalam penelitiannya tersebut.
Penelitian yang melakukan pengukuran berulang pada waktu yang berbeda yang dilakukan satu kali pengukuran saja dinamakan penelitian longitudinal, sedangkan penelitian yang dilkukan satu kali pengukuran saja pada waktu yang sama dinamakan sebagai penelitian cross section. Sehingga secara umum jika ditinjau dari dimensi waktu, maka dapat dikatakan bahwa desain penelitian terbagi menjadi desain penelian longitudinal dan cross section.
Comments
Post a Comment